Stigma Hidup Medioker Di Masyarakat Modern

Published by Editor1 on

Stigma Hidup Medioker di Masyarakat Modern

Kata medioker pada telinga beberapa orang mungkin terdengar menakutkan. Pada sebagian lainnya mungkin terdengar biasa-biasa saja atau mungkin beberapa diantaranya tidak benar-benar mengenal arti medioker. Pada era sekarang ini, kata medioker banyak sekali digunakan, lho, untuk menggambarkan kemampuan seseorang. Orang-orang dengan mudahnya menggunakan “cap” medioker pada orang-orang di sekelilingnya tanpa tahu jelas apa arti dari sebuah kata medioker. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti medioker adalah menengah atau rata-rata.

Menjadi seseorang medioker adalah hal yang menakutkan bagi kebanyakan orang akhir-akhir ini. Banyak sekali yang akhirnya masuk kedalam lingkaran FOMO atau fear of missing out hanya karena takut dicap medioker oleh sekelilingnya. Memang, pada beberapa hal kita harus mendorong diri sendiri untuk keluar dari zona nyaman, namun apabila melakukan sesuatu tanpa tahu apa manfaat yang akan diterima diri sendiri juga bukan hal yang sepenuhnya benar, ya.

Sebenarnya, tidak semua bentuk mediokritas lahir dari ketidakmampuan, lho. Dalam banyak kasus, hidup medioker adalah sebuah keputusan sadar yang diambil. Penting untuk membedakan antara medioker sebagai pilihan sadar dan pasrah tanpa refleksi. Medioker tidak selalu berarti berhenti berkembang. Ia bisa berarti berkembang secara selektif, pada aspek yang memang relevan bagi kehidupan personal seseorang. Contohnya seorang mahasiswa bisa memilih untuk tidak mengejar IPK sempurna, tetapi tetap berkembang secara signifikan pada aspek lain yang lebih relevan bagi kehidupannya. Misalnya, ia fokus menyelesaikan studi tepat waktu, menjaga kesehatan mental, dan membangun keterampilan praktis seperti menulis, riset lapangan, atau kerja organisasi yang sesuai dengan arah kariernya. Secara akademik ia mungkin tampak “biasa”, tetapi secara fungsional ia berkembang sesuai kebutuhannya.

Stigma terhadap hidup medioker sering diperkuat oleh media sosial. Representasi hidup yang dianggap layak hampir selalu ekstrem, antara sukses besar atau gagal total. Hampir tidak ada cerita tentang hidup yang cukup, stabil, dan biasa saja. Akibatnya, banyak orang merasa bersalah bukan karena hidupnya buruk, tetapi karena hidupnya tidak terlihat istimewa.

Medioker tidak selalu buruk, yang bermasalah adalah ketika mediokritas dipahami tanpa konteks yang jelas, dan keunggulan dijadikan kewajiban moral. Hidup yang cukup dan stabil bukanlah kegagalan, melainkan bentuk rasionalitas.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *